
Dunia olahraga Indonesia baru-baru ini diramaikan oleh diskusi hangat mengenai status Federasi Futsal Indonesia (FFI). Prestasi gemilang tim nasional futsal yang seringkali melampaui ekspektasi publik memicu desakan dari para penggemar agar FFI memisahkan diri dari PSSI dan menjadi lembaga independen. Namun, Ketua Umum FFI, Michael Victor Sianipar, baru-baru ini memberikan jawaban tegas yang mengakhiri spekulasi tersebut: Futsal dan Sepak Bola Indonesia akan tetap berjalan beriringan.
Keputusan ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan langkah strategis demi ambisi besar membawa Indonesia menjadi raksasa futsal dunia, termasuk misi ambisius menjadi tuan rumah Piala Dunia Futsal 2028.
Prestasi yang Memicu Dilema Independensi
Desakan publik agar FFI keluar dari PSSI sebenarnya memiliki landasan yang bisa dipahami. Dalam satu dekade terakhir, futsal Indonesia menunjukkan grafik prestasi yang stabil dan membanggakan di level Asia Tenggara maupun Asia. Keberhasilan tim nasional futsal menembus peringkat papan atas Asia membuat banyak pihak menilai bahwa cabang ini sudah cukup “dewasa” untuk mengelola rumah tangganya sendiri tanpa campur tangan induk organisasi sepak bola.
Publik melihat adanya kontras prestasi antara sepak bola lapangan besar yang sedang dalam proses transformasi dengan futsal yang sudah lebih dulu konsisten meraih trofi. Muncul anggapan bahwa jika FFI berdiri sendiri, alokasi anggaran dan fokus pengembangan atlet bisa dilakukan secara lebih spesifik dan maksimal.
Namun, Michael Victor Sianipar memiliki sudut pandang berbeda yang lebih global dan visioner.
Baca Juga:
Era Baru “The Tactical Wizard”: John Herdman Resmi Nakhodai Timnas Indonesia
Kiblat Global: Mengikuti Jejak FIFA
Alasan utama yang mendasari bertahannya FFI di bawah PSSI adalah struktur organisasi olahraga internasional. Michael menjelaskan bahwa di level dunia, futsal berada langsung di bawah payung FIFA (Fédération Internationale de Football Association).
“Kami di FFI memiliki pemahaman yang jelas dan tegas bahwa futsal adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sepak bola. Ini bukan hanya bicara kondisi di dalam negeri, tapi di seluruh dunia,” tegas Michael.
Faktanya, negara-negara dengan kekuatan futsal nomor satu dunia seperti Brasil, Argentina, Spanyol, dan Portugal, semuanya menaruh federasi futsal mereka di bawah naungan federasi sepak bola nasional masing-masing. Keselarasan ini memungkinkan adanya pertukaran ilmu, metodologi kepelatihan, hingga pemanfaatan fasilitas yang terintegrasi. Fondasi dasar permainan futsal dan sepak bola memiliki banyak kemiripan, sehingga sinergi keduanya justru memperkuat ekosistem olahraga secara keseluruhan.
Misi Besar 2028: Dukungan Erick Thohir dan PSSI
Salah satu poin krusial dalam hubungan FFI dan PSSI adalah rencana besar Indonesia untuk melakukan bidding tuan rumah Piala Dunia Futsal 2028. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, secara terbuka menyatakan bahwa futsal membutuhkan asistensi dan jaringan internasional yang dimiliki PSSI untuk memenangkan persaingan menjadi tuan rumah ajang bergengsi tersebut.
Sinergi ini telah mendapatkan lampu hijau sejak Kongres PSSI Juni 2025. Michael Sianipar mengungkapkan bahwa diskusi panjang dengan Erick Thohir telah menghasilkan kesepakatan bahwa kemajuan futsal harus sejalan dengan kemajuan sepak bola.
“Pak Erick dan saya sudah berdiskusi dan bersepakat. Kita bicara jangka panjang. Pak Erick sudah memperkuat kami untuk bisa membangun Futsal Indonesia lebih lagi,” ungkap Michael.
Sinergi ini mencakup beberapa hal fundamental:
- Pemanfaatan Fasilitas: Akses terhadap infrastruktur olahraga yang dikelola oleh PSSI dan pemerintah.
- Jaringan Internasional: Hubungan diplomatik PSSI dengan FIFA dan AFC sangat vital untuk urusan administrasi dan lobi internasional.
- Status sebagai Voter: Sebagai asosiasi di bawah PSSI (bersama sepak bola wanita dan pelatih), FFI memiliki hak suara dalam Kongres PSSI, yang artinya mereka memiliki kekuatan politik untuk mempengaruhi kebijakan olahraga nasional.
Michael juga menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh yang diberikan jajaran PSSI, termasuk Sekretaris Jenderal dan Komite Eksekutif (Exco), selama dua tahun terakhir. Menurutnya, bantuan dari PSSI sangat terasa dalam mempercepat proses administrasi tim nasional serta penyelenggaraan liga profesional yang lebih tertata.
Menatap tahun 2026, FFI berkomitmen untuk memperkuat relasi ini. Target “naik kelas” bukan sekadar slogan, melainkan peta jalan yang membutuhkan kolaborasi erat. FFI sadar bahwa tanpa pengakuan dalam kerangka federasi sepak bola nasional, legitimasi futsal Indonesia di mata internasional bisa terganggu.
Kesimpulan: Sinergi adalah Kunci
Pada akhirnya, perdebatan mengenai independensi FFI terjawab dengan logika integrasi global. Dengan tetap menjadi bagian dari PSSI, Futsal Indonesia tidak hanya mengamankan posisinya di mata FIFA, tetapi juga mendapatkan “kakak asuh” yang memiliki kekuatan sumber daya besar untuk mendukung ambisi internasional.
Kini, tugas besar bagi FFI dan PSSI adalah membuktikan kepada publik bahwa sinergi ini benar-benar bisa membawa trofi lebih banyak ke tanah air. Dengan visi yang selaras, Indonesia tidak hanya sekadar bermimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia, tetapi juga menjadi pesaing serius yang patut disegani di atas lapangan kayu.