
Jakarta – Awal tahun 2026 seharusnya menjadi momentum harapan baru bagi sepak bola Indonesia. Namun, hingga detik ini, kursi panas pelatih Timnas Indonesia masih dibiarkan kosong melompong. Sejak pemutusan kontrak massal terhadap Patrick Kluivert dan gerbong pelatih asal Belandanya pada pertengahan Oktober 2025 lalu—buntut kegagalan pahit di Kualifikasi Piala Dunia 2026—skuad Garuda seolah kehilangan arah kompas.
Publik kini mulai gelisah. Tekanan agar PSSI segera mengumumkan nama pelatih baru semakin kencang, terutama memasuki pekan pertama Januari 2026. Pertanyaannya bukan lagi “siapa”, tapi “kapan”?
Bayang-bayang Kegagalan Masa Lalu
Kegagalan era Patrick Kluivert (PK) menjadi pelajaran yang sangat mahal harganya. Ekspektasi tinggi yang dibebankan pada pundak legenda Belanda tersebut hancur berkeping-keping karena kurangnya adaptasi taktis dengan karakter pemain lokal dan naturalisasi yang ada. Kini, PSSI tidak boleh mengulangi lubang yang sama.
Pengamat sepak bola senior, Mohamad Kusnaeni—atau yang akrab disapa Bung Kus—menjadi salah satu suara paling lantang yang mengingatkan federasi. Menurutnya, proses rekrutmen kali ini memang terlihat lebih serius dengan keterlibatan Direktur Teknik Alexander Zwiers yang bergerilya di Eropa. Namun, keseriusan tanpa kecepatan adalah kesia-siaan.
“Kita harus memulai proses dengan lebih bertanggung jawab. Pelatih baru harus mempresentasikan gagasannya, diuji kompetensinya, dan ada sinkronisasi dengan direktorat teknis serta Badan Tim Nasional (BTN). Tapi ingat, jangan kelamaan!” tegas Bung Kus dalam wawancara terbaru.
John Hermann vs Giovanni van Bronckhorst: Duel Dua Filosofi
Saat ini, radar pencarian mengerucut pada dua nama besar: John Hermann dan Giovanni van Bronckhorst. Keduanya membawa profil yang sangat kontras namun sama-sama menjanjikan.
- John Hermann: Sosok di balik layar kesuksesan Timnas Kanada dalam menembus panggung dunia. Hermann dikenal sebagai pelatih yang metodis dan sangat kuat dalam membangun sistem pertahanan serta transisi cepat. Ia adalah tipe pelatih yang mampu memaksimalkan potensi tim “underdog” menjadi kekuatan yang ditakuti.
- Giovanni van Bronckhorst (Gio): Sebagai asisten pelatih di Liverpool saat ini, Gio membawa aura sepak bola modern yang ofensif dan berkelas dunia. Memiliki darah Indonesia (Maluku), kedekatan emosional menjadi nilai tambah bagi mantan kapten Timnas Belanda ini. Gio dipandang mampu menjembatani komunikasi dengan para pemain abroad Indonesia yang mayoritas merumput di Eropa.
Dilema bagi PSSI adalah memilih antara sistem (Hermann) atau prestise dan filosofi menyerang (Gio). Siapa pun yang terpilih, ia akan memikul beban berat untuk membangkitkan mentalitas pemain yang baru saja terpuruk.
Baca Juga:
Fenomena “Bang Jay”: Lonjakan Valuasi Jay Idzes dan Rebutan Derby della Madonnina di Awal 2026
Alasan utama mengapa PSSI didesak bergerak cepat adalah FIFA Series yang dijadwalkan pada Maret 2026. Jika pelatih baru baru diumumkan di akhir Januari, maka ia praktis hanya memiliki waktu efektif sekitar satu bulan untuk bekerja.
Bung Kus mengingatkan bahwa pekerjaan pelatih Timnas bukan sekadar melatih di lapangan. “Minggu ketiga Januari seharusnya dia sudah bekerja. Dia harus berkeliling melihat pertandingan Liga 1, bertemu BTN, berdialog dengan pelatih-pelatih klub, hingga melakukan audiensi. Itu memakan waktu banyak,” jelasnya.
Jika pengumuman ditunda lagi, maka persiapan menuju FIFA Series akan kembali dilakukan secara “mepet”. Kondisi persiapan yang terburu-buru ini seringkali dijadikan alasan (apologi) oleh pelatih maupun federasi jika nantinya hasil pertandingan tidak memuaskan. Indonesia terancam masuk ke dalam lingkaran setan kegagalan yang sama jika manajemen waktu tidak diperbaiki.
Menuju Panggung FIFA ASEAN Cup 2026
Selain FIFA Series, target besar lainnya adalah FIFA ASEAN Cup (dahulu Piala AFF) yang akan digelar pertengahan tahun ini. Turnamen ini tetap menjadi tolok ukur harga diri di kawasan Asia Tenggara. Publik sudah haus akan trofi, dan pelatih baru tidak akan diberikan “bulan madu” yang lama. Ia harus langsung tancap gas.
Kehadiran Alexander Zwiers sebagai Direktur Teknik diharapkan mampu memberikan filter yang objektif. Proses wawancara di Eropa menunjukkan bahwa PSSI ingin mencari sosok yang benar-benar paham dengan visi jangka panjang, bukan sekadar pelatih yang mencari jabatan.
PSSI di bawah kepemimpinan saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kejelasan sebelum pekan pertama Januari berakhir. Ketidakpastian kursi pelatih hanya akan merusak stabilitas internal timnas dan menurunkan kepercayaan publik.
Suporter Garuda tidak butuh janji manis atau nama besar yang sekadar numpang lewat. Yang dibutuhkan adalah nakhoda yang siap turun ke akar rumput, memantau kompetisi domestik, dan meramu strategi jitu untuk membawa Indonesia kembali disegani.
Pekan ini adalah tenggat waktu krusial. Jika asap putih tidak kunjung keluar dari kantor PSSI di Senayan, maka jangan salahkan publik jika kecurigaan dan kritik tajam kembali menghujani federasi. Waktunya bekerja, waktunya mengumumkan, dan waktunya terbang lebih tinggi.