NONTHABURI – Gemuruh prestasi kembali datang dari lapangan futsal Asia Tenggara. Timnas Futsal U-19 Indonesia menunjukkan taringnya sebagai kekuatan baru yang menakutkan setelah berhasil membungkam rival bebuyutan, Vietnam, dalam laga semifinal Piala AFF Futsal U-19 2025. Bermain di PAO Nonthaburi Gymnasium, Thailand, pada Sabtu (27/12/2025) sore WIB, Skuad Garuda Muda tampil dominan dan menutup laga dengan skor mencolok, 7-3.

Kemenangan ini bukan sekadar hasil akhir yang manis, melainkan pernyataan tegas bahwa pembinaan futsal usia muda Indonesia berada di jalur yang tepat. Anak asuh Naim Hamid tampil dengan kepercayaan diri tinggi, mematahkan pertahanan berlapis yang menjadi ciri khas Vietnam, dan memastikan diri melangkah ke partai puncak untuk berebut takhta juara.

Babak Pertama: Kejar-mengejar Gol yang Menegangkan

Sejak wasit meniup peluit tanda dimulainya pertandingan, Indonesia langsung memeragakan permainan ofensif yang agresif. Paket pertama yang diisi oleh Muhamad Fatih Zidan, Ahmad Firdaus, Andi Umayyah, dan Reivan Revian langsung mengurung pertahanan Vietnam.

Hasilnya instan. Baru tiga menit laga berjalan, Daffa Erlangga memecah kebuntuan. Melalui aksi individu ciamik, ia mengelabui pemain bertahan lawan sebelum melepaskan tembakan akurat yang mengubah skor menjadi 1-0. Namun, euforia itu sempat terganggu semenit kemudian ketika Daffa secara tidak sengaja mencetak gol bunuh diri saat mencoba memotong umpan silang lawan. Skor imbang 1-1.

Mentalitas juara Skuad Garuda Muda teruji di sini. Alih-alih terpuruk karena kesalahan sendiri, Indonesia justru makin beringas. Menit ke-5, Haekal Ayyasy menghukum kesalahan fatal kiper Vietnam, Doan Tuan Phong, untuk membawa Indonesia kembali unggul 2-1. Tak butuh waktu lama, menit ke-6, Sulaiman Riski Hidayat melepaskan sepakan roket jarak jauh yang mengoyak jala gawang Vietnam untuk ketiga kalinya.

Baca Juga
Misi Ganda Timnas Futsal Indonesia Mengguncang Asia Tenggara

Meski Vietnam sempat membalas lewat gol Vu Dai Hoc di menit ke-7, Indonesia tetap memegang kendali. Daffa Erlangga menebus kesalahannya di awal laga dengan mencetak gol keduanya pada menit ke-13 setelah menerima umpan manja dari Reivan Revian. Keunggulan 4-2 bertahan hingga turun minum, memberikan modal kepercayaan diri besar bagi anak-anak asuh Naim Hamid.

Babak Kedua: Strategi Power Play Vietnam yang Berujung Petaka

Memasuki paruh kedua, Vietnam mencoba mengubah gaya bermain. Mereka tampil lebih menekan guna mencari gol cepat untuk memperkecil ketertinggalan. Namun, pertahanan Indonesia yang digalang dengan disiplin tinggi membuat serangan lawan sering kali menemui jalan buntu.

Indonesia justru berhasil memperlebar jarak pada menit ke-25. Memanfaatkan kemelut di depan mulut gawang, Reivan Revian menunjukkan insting predatornya dengan mencocor bola liar menjadi gol kelima. Skor 5-2 membuat posisi Indonesia semakin nyaman.

Dalam kondisi terdesak, Vietnam menerapkan strategi power play di tujuh menit terakhir pertandingan. Strategi ini sempat memberikan hasil ketika Pham Quang Huy mencetak gol pada menit ke-33, memperkecil skor menjadi 5-3. Atmosfer pertandingan sempat memanas dan memicu ketegangan di bangku cadangan.

Namun, drama sesungguhnya terjadi di menit terakhir laga. Saat Vietnam mengerahkan seluruh pemainnya untuk menyerang tanpa menyisakan kiper di bawah mistar, penjaga gawang Indonesia, Guntur Rochmatdani, menunjukkan aksi spektakuler. Memanfaatkan bola tangkapan, Guntur melepaskan dua kali tembakan jarak jauh dari area pertahanannya sendiri ke gawang Vietnam yang kosong melompong. Dua gol beruntun dalam waktu kurang dari satu menit ini memastikan kemenangan telak Indonesia menjadi 7-3.

Kemenangan meyakinkan ini membawa Indonesia ke partai final Piala AFF Futsal U-19 2025. Mereka kini menanti pemenang antara sang juara bertahan sekaligus tuan rumah, Thailand, yang akan berhadapan dengan Malaysia. Siapa pun lawannya, Skuad Garuda Muda telah membuktikan bahwa mereka memiliki kedalaman skuad dan variasi taktik yang mumpuni.

Pelatih Naim Hamid memuji ketenangan anak asuhnya dalam menghadapi tekanan power play lawan. “Kemenangan ini adalah buah dari kerja keras dan disiplin pemain. Kami tidak panik saat Vietnam mencoba bangkit. Sekarang fokus kami adalah pemulihan dan menatap partai final dengan ambisi membawa pulang trofi ke tanah air,” ungkapnya usai pertandingan.

Bagi Vietnam, kekalahan ini memaksa mereka harus puas bertarung di perebutan tempat ketiga. Sementara bagi Indonesia, ini adalah langkah besar untuk menorehkan tinta emas dalam sejarah futsal nasional, membuktikan bahwa regenerasi pemain tetap berjalan kuat di kancah Asia Tenggara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *